1
1
AGGRESSIVENEWS.COM, JAKARTA — Demokrasi kerap kali disalahartikan sebagai sebuah takdir atau hasil akhir yang stagnan. Padahal, para pemikir politik dunia seperti Alexis de Tocqueville hingga Robert Dahl telah lama mengingatkan bahwa demokrasi adalah sebuah proses yang ringkih dan terus berproses (an ongoing process). Demokrasi bukan seperti bangunan beton yang sekali berdiri akan bertahan selamanya, melainkan seperti ekosistem hidup yang membutuhkan perawatan berkala. Jika dibiarkan tanpa pengawasan kritis, ia dapat dengan mudah tererosi oleh kekuasaan yang cenderung sentralistis dan pragmatisme politik yang mengabaikan etika.
Di tengah lanskap politik modern Indonesia yang makin dinamis dan diwarnai oleh benturan kepentingan, narasi untuk memelihara dan menjaga demokrasi menjadi imperatif moral yang amat mendesak.
Para akademisi dan pengamat sosiologi politik mengidentifikasi dua ancaman laten yang dapat merusak kualitas tatanan demokratis dari dalam:
Menjaga demokrasi bukan sekadar ritual datang ke TPS setiap lima tahun sekali. Pemeliharaan sistem demokrasi yang sehat membutuhkan keterlibatan aktif di tiga tingkatan utama:
Pada akhirnya, keberlanjutan demokrasi bergantung pada sejauh mana negara dan warga negaranya saling menjaga batas-batas kekuasaan. Kekuasaan yang tidak diawasi secara konsisten akan selalu cenderung melampaui batasnya.
Memelihara demokrasi berarti merawat ruang bagi akal sehat, menghormati hak-hak minoritas, dan memastikan bahwa suara rakyat kecil tidak tenggelam di bawah tekanan elite politik maupun modal. (*)
Penulis : Pengamat Demokrasi